Wonogiri Sukses
                   

Profile Wilayah   

Kecamatan Nguntoronadi

salah satu Potensi Wilayah yang dimiliki oleh Kecamatan Nguntoronadi adalah Home Industri Breem 


Nguntoronadi merupakan kecamatan yang terletak pada jalur transportasi utama sebelah timur menuju ke Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Letak wilayah yang strategis menjadikan potensi tersendiri bagi pengembangan perekonomian di wilayah ini.
Bedasarkan letak geografis, Kecamatan Nguntoronadi termasuk daerah yang memiliki area pertanian tadah hujan cukup luas bila dibandingkan dengan kecamatan lain di Wonogiri. Melihat kondisi tanah tersebut, maka wilayah ini hanya bisa memproduksi padi pada musim-musim tertentu, sehingga permasalahan yang kerap muncul pada musim kemarau sekarang adalah soal ketersediaan air.
Sumber air menjadi kebutuhan pokok bagi kehidupan masyarakat di kecamatan ini. Meskipun musim kemarau masih berjalan, namun penduduk setempat belum sampai mengalami krisis air bersih.
Tumpuan hidup penduduk sekarang hanya bisa mengandalkan dari hasil industri kecil yang selama ini digeluti oleh hampir sebagian besar penduduk, yakni berdagang, ternak, serta usaha home industry lain. Satu-satunya produksi industri kecil yang diunggulkan di kecamatan ini dan menjadi primadona produk makanan di Kabupaten Wonogiri setelah gaplek adalah industri makanan brem.
Kapasitas produksi brem dari Nguntoronadi sangat besar, bahkan tidak ada kecamatan lain di Wonogiri yang mampu menandingi produksi brem di Kecamatan Nguntoronadi ini.
Industri brem merupakan industri terbesar di Kabupaten Wonogiri. Untuk pengembangan industri ini sudah berlangsung sejak lama. Pengembangan industri ini dilakukan secara tradisional dan secara turun temurun selama puluhan tahun atau bahkan sampai ratusan tahun silam.
Disamping itu limbah industri brem ini bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak sebagai pemacu penggemukan sapi. Oleh karena itu, hampir setiap penduduk yang menggeluti industri brem ini dipastikan juga memiliki usaha ternak.
Dalam pembuatan makanan brem, dari bahan dasar yang dibikin, hanya sekitar 30% yang berhasil menjadi makanan brem. Sedangkan sisanya 70% menjadi limbah yang berupa air dan ampas beras.
”Limbah inilah yang dimanfaatkan penduduk tersebut. Jika hanya mengandalkan dari hasil penjualan brem sebenarnya tidak sebanding dengan biaya produksi, karena pemasaran produk brem ini masih bersifat lokal dan tradisional. Selama ini belum ada stimulan berupa permodalan dari pihak pemerintah untuk mengembangkan industri ini. Bantuan hanya berupa peralatan giling yang pernah diberikan beberapa tahun yang lalu. Sekarang kondisi peralatan industri itu sudah usang.”
Proses pembuatan brem ini masih bersifat tradisional dan sederhana, sehingga para produsen ini tidak memiliki nilai tawar yang tinggi kepada tengkulak.
Meskipun pemasaran produk brem di Nguntoronadi masih bersifat lokal, namun baru-baru ini sudah menunjukkan kemajuan yang pesat. Produk brem dari daerah itu telah berhasil menembus pasaran di Kabupaten Temanggung.
Hal itu menjadi stimulus bagi pihak kecamatan untuk giat memberikan pembinaan dan pengembangan industri brem. Hasil pembinaan dan penyuluhan itu membuat motivasi penduduk mulai terbangun, di mana alat-alat yang rusak segera diperbaiki dan mengganti peralatan giling tradisional dengan teknologi yang lebih maju.
Mengingat industri brem ini merupakan industri turun temurun, maka kualitas SDM dan mutu produknya masih sederhana. ”Melalui bantuan dari Disperindagkop dan Pendal, penduduk sudah mulai memproduksi brem dengan kemasan khusus dan memiliki merk sendiri, sehingga memiliki posisi tawar yang tinggi di pasaran,” tuturnya.
Selama ini pemerintah hanya membantu dalam pemasaran ke daerah lain melalui kegiatan gelar potensi daerah yang diadakan setiap tahun sekali.
Produk-produk dari Nguntoronadi, selalu berperan serta dalam kegiatan tersebut, karena hal itu merupakan kesempatan emas bagi daerah untuk unjuk gigi dalam tingkat regional.
Selain bidang industri, Kecamatan Nguntoronadi juga memiliki potensi pertanian yang patut mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah, terutama dari Dinas Pertanian (Dispertan).
Daerah ini memiliki potensi yang bisa dikembangkan untuk budidaya tanaman bawang merah, jagung, atau tanaman palawija lain hingga program pemerintah pusat untuk penanaman jarak pagar sebagai pengganti bahan bakar minyak.
Menurut Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Kecamatan, Anang Setyo U, pihaknya sedang melakukan sosialisasi penanaman jarak pagar yang memiliki prospek yang cerah di masa yang akan datang. Sosialisasi itu dilakukan karena banyak petani yang belum paham mengenai bagaimana cara menanam jarak pagar. Meskipun daerah ini belum menjadi pilihan dari pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat, namun pihaknya tetap akan berusaha secara swadaya untuk mengembangkan jarak pagar sendiri.
Anang menjelaskan, untuk pengembangan tanaman bawang merah, banyak petani yang mengalami hambatan karena harga bawang merah akhir-akhir ini telah jatuh akibat mekanisme pasar. Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada petani untuk melakukan penimbunan bawang merah terlebih dulu sambill menunggu harga bawang merah beranjak naik.
Menurut Anang, bawang tersebut mampu bertahan lama sampai beberapa bulan, asalkan tidak disimpan di tempat yang lembab.
”Harga bawang merah sekarang hanya sekitar Rp 4.000/kg, sedangkan permintaan petani harga tersebut sampai di atas Rp 5.000/kg. Sebagian besar tanaman bawang merah itu berada di areal Waduk Gajah Mungkur, sehingga memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Kami mengharapkan ada investor yang masuk untuk pengembangan tanaman bawang merah. Selama ini kita telah melakukan kerja sama dengan pihak statistik kabupaten untuk melakukan perhitungan ubinan,” tukasnya.
Anang berharap ada bantuan damplot untuk tanaman bawang merah di wilayahnya, karena beberapa tahun yang lalu kecamatan ini pernah mendapatkan damplot untuk jenis tanaman jagung dan padi tingkat kabupaten.

 

Data lengkap
Nama kecamatan : Nguntoronadi
Nama camat : Kastadi
Luas wilayah : 9.301,0885 ha
Jumlah penduduk : 56.860 jiwa
Jumlah desa/kelurahan : 11 desa,
2 kelurahan
Jumlah dusun : 87 dusun
Jumlah rukun warga : 69 RW
Jumlah rukun tetangga : 190 RT

Batas Wilayah
Utara : Kecamatan Ngadirojo
Timur : Kecamatan Tirtomoyo
Selatan : Kecamatan Baturetno
Barat : Waduk Gajah Mungkur
Sumber : Kecamatan Nguntoronadi

 

 

 


 
 
 






 
 
 Copyright © 2006 by KPDE Kabupaten Wonogiri dan Diginet Media